Antara Islam & Katholik

Tulisan ini saya mulai dengan memperkenalkan Bapak dan Ibu saya. Bapak saya menganut agama Islam (hingga sekarang) dan Ibu saya menganut agama Katholik (juga sampai sekarang).

Hingga saya menulis tentang ini, saya tidak tahu bagaimana tata cara atau hukum yang dipakai oleh Bapak dan Ibu saya ketika menikah. Saya tidak tahu, apakah mereka menikah di gereja atau di masjid. Jangan-jangan, mereka menikah di luar negeri, atau hanya dicatatan sipil. Saya sama sekali tak tahu. Jangankan cara mereka menikah, tanggal perkawinannya saja saya tak tahu. Sayapun juga tidak pernah menanyakannya.

Meski demikian, saya sendiri menganut agama katholik, mengikuti ibu saya. Begitu juga dengan kakak saya. Bisa jadi, karena sejak kecil kami lebih dekat dengan Ibu dibandingkan dengan bapak. Jaman dulu, bapak memang sering pergi ke luar kota untuk dinas. Pulang mungkin 2 bulan sekali, 3 bulan sekali. Sehingga, kehidupan kami dihabiskan bersama ibu. Termasuk dalam kehidupan menggereja dan aktivitas yang bertujuan untuk memupuk keimanan.

Tapi jangan salah, jaman saya kecil dulu, saya juga ikutan bagaimana caranya sholat. (hehehe… kalau yang ini, cuma ikut-ikutan tetangga). Pernah ikut juga TPA, untuk belajar Al Quran. Tapi tiap minggupun juga ke gereja (itupun kalau tidak tergoda oleh si Doraemon yang selalu ditayangkan di RCTI tepat saat misa ekaristi dimulai)

Saya mengenal bapak saya sebagai Islam yang -menurut saya- kurang Islami. Beliau tidak melakukan sholat lima waktu tetapi selalu melakukan puasa pada saat bulan suci ramadhan. Sedangkan ibu saya, selalu mempersiapkan makanan untuk buka dan sahur. Begitulah yang selalu terjadi di tiap tahunnya saat ramadhan.

Saya tak tahu, apakah Bapak saya bisa sholat atau tidak. Sampai umur saya 24 tahun, saya belum pernah melihat beliau sholat. Secara ajaran, memang tidak melakukan sholat, tapi betapa baiknya Bapak saya kepada anak-anaknya. Dia mencintai dan mendidik anak-anaknya supaya menjadi orang yang tegas dan berkepribadian. Bagi saya, hal tersebut justru yang saya rasakan.

Selain itu, Bapak saya ini juga baik hatinya minta ampun. Dari kecil, kalau saya dan ibu ke gereja, selalu di antarkan. Kadang dia menunggu di depan pintu gerbang gereja sampai perayaan ekaristi selesai.

Sejak kecil, saya sudah mengenal perbedaan agama. Merekapun secara tidak langsung mengajarkan pada saya bahwa memberikan kesempatan orang lain untuk beribadah adalah keharusan. Sayapun pernah ikut berpuasa sebulan penuh. Merasakan lapar dan menahan nafsu yang juga dirasakan kaum muslim. Ternyata berat juga ya… hehehehe….

Saya selalu bersekolah di sekolah katholik, mulai dari TK, SD, SMP, SMA bahkan kuliah. Tapi nafas aktivitas saya juga dikelilingi oleh kehidupan kaum muslim. Ini yang membuat saya tidak fanatik pada katholik. Setiap lebaran, kami selalu bermaaf-maafan. Ibu meminta maaf pada bapak, begitu juga sebaliknya. Kakak saya juga. Sayapun mengikuti tradisi berlebaran yang hanya ada pada saat lebaran.

Tidak hanya pada keluarga inti. Keluarga kami selalu mengunjungi tetangga-tetangga yang beragama muslim. Saking seringnya dikunjungi oleh keluarga kami yang notabene katholik, sekarang justru terbalik. Tetangga-tetangga kami justru yang datang ke rumah kami untuk berlebaran dan bermaaf-maafan. Bahkan ada tetangga kami yang muslim taat dengan aliran LDII-pun datang ke tempat kami, ikut bermaafan dan mengucapkan selamat hari raya. Mungkin merasa bahwa bapak dan ibu saya sebagai orang yang dituakan di kampung.

Dulu, kami juga sering mengunjungi simbah (kakek dan nenek) yang ada di Gunungkidul untuk berlebaran. Seperti adatnya, lebaran adalah waktu untuk pulang kampung dan mengunjungi orangtua. Kegiatan ini kami hentikan setelah simbah kami sudah tidak ada. Namun, kami tetap rutin mengunjungi sarean (makam) mereka tiap tahun.

Cerita dan pengalaman tentang keberadaan saya di tengah 2 agama, Islam dan Katholik, membuat saya bangga. Saya banyak belajar tentang perbedaan agama. Saya belajar bagaimana menghargai keyakinan yang dimiliki orang lain. Saya, kakak saya, dan ibu sayapun juga tak pernah memaksa Bapak untuk pindah ke Katholik. Kepercayaan itu adalah hak individu yang tidak boleh diganggu. Selama beliau berbuat baik dan kami merasakan kebaikannya, kami tak akan memaksakan keyakinannya. Karena Agama tidak akan berbicara apapun jika tanpa perbuatan nyata bagi orang lain.

Semoga di Indonesia tercipta rasa keamanan dan kedamaian lintas agama. Semoga semuanya bisa saling menghargai dan memberikan kesempatan untuk beribadah menurut keyakinannya. Dan tak lupa, Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya, khususnya pada bapak saya.

Pak, jangan makan yang manis-manis. Ingat gula darahnya tinggi. Semoga lekas sembuh…

(dari kiri ke kanan) Saya, Bapak, Ibu, Kakak, Keponakan dan Kakak Ipar sewaktu berziarah ke Gua Maria Kerep Ambarawa (tahun 2008)

FOTO: Koleksi pribadi (katedral) – EOS 500D

About these ads

34 thoughts on “Antara Islam & Katholik

  1. great!

    bagaimana bapak dan ibu bisa tetap salig mendukung di atas berbedaan tersebut.

    semoga itu bisa menjadi teladan bagi mereka yg mempunyai cinta yg tulus, tp perbedaan keyakinan menghalangi langkah mereka. saya rasa cinta yang tulus yang membuat bapak dan ibu menjadi orangtua yg hebat.

    sunkem buat bapak -ibu..

    selaamat menunaikan ibadah puasa buat bapak..

  2. Terima kasih ucapannya… Benar sekali, meskipun ada perbedaan yang dalam, tetapi jika dilandasi dengan cinta dan keyakinan yang teguh, sebuah perkawinan akan tetap berjalan. Sekarang ini, tantangannya banyak, maka kita harus bisa menjaga kepercayaan dan keyakinan…. Selamat mempersiapkan lebaran… hehehe….

  3. hmm.. nice.. temanku di Jogja juga begitu.. orang tuanya beda agama, dan waktu kecil pun juga ke gereja dan sholat.. rekan kerja ku di kantor Meruya kala itu, dia malah membebaskan anak laki-lakinya beragama.. walau dia dan istrinya seorang Katolik, dia tidak pernah mengharuskan anak lelakinya ke gereja dan dibaptis.. semua itu demi upaya mengajarkan kepada anak lelakinya sebuah pilihan, untuk beragama.. Ia ingin anaknya melihat, dan meyakini apa yang menurut ia baik.. ketika akhirnya anak lelakinya menjadi Katolik, rekanku itu pun bertekad, “hanya akan mendampingi anaknya babtis, cuma mendampingi”, sedangkan keputusan ada di anak.. saya mengenal anaknya, Jalu namanya, ia benar-benar seorang yang beda dari teman-teman seusianya.. Oiya, teman kerjaku itu orang Wonosari, dan keluarganya juga beda agama..

    Ahh.. alangkah indahnya perbedaan.. tapi sayangnya, sosial budaya di negara kita masih jauh dari itu..

  4. Hehehehe… Komennya panjang dan bercerita… apik-apik… Wah, jangan-jangan banyak orang Wonosari-Gunungkidul yang nikahnya campur ya??? hehehe.. *kesimpulan yang sangat tidak tepat. Atau jangan-jangan, kamu mau curhat tentang dirimu sendiri, mas? hehehe…. Tapi aku yakin, kamu pasti orang yang mencari teman seiman kan? Kalau yang aku tahu, di Katholik-pun juga bisa menikah campur (beda agama), tapi negara yang tidak mengatur itu kan? Nah… sekarang bingung deh… Jadi gimana? Mas Yus tentunya memilih yang seiman kan? Atau mau jadi selibat awam saja? hehehe…

  5. hehe.. :D
    hidup itu pilihan.. Yup, aku cenderung seperti itu.. tanpa mengurangi rasa hormatku terhadap suatu perbedaan (karena Babe dulu juga seorang Muslim, bahkan semua PakDe, PakLik, BuLik sampai sekarang juga Muslim), aku cenderung memilih mencari pendamping yang seiman.. kebetulan, dapetnya juga yang seiman terus.. :D
    1 keluarga PakLik, dulu adalah Katolik.. saat ini, semuanya menjadi Mualaf.. Bagi saya, hal seperti itu adalah pilihan.. Semua agama adalah baik adanya, saya senang ketika saya melihat komitmen mereka terhadap pilihannya.. Nah, bener to? betapa indahnya perbedaan itu.. tergantung kita menyikapinya.. :)

  6. Betul sekali. Saya sangat setuju. Keyakinan itu urusan pribadi orang. Kalau saya, yang penting perbuatannya baik, amalnya ada. Urusan kedekatan dengan Tuhannya, ya itu biarkan saja. Perbedaan itu sangat indah, lebih indah lagi jika setiap perbedaan itu juga dihargai. Disitulah kita belajar. Disitulah kita tahu dan mengerti arti kehidupan… Kalau soal keluarga, ya sama… Keluarga dari bapakku, semua muslim… kalau keluarga dari ibu semua mayoritas katholik…

  7. Menurutku yang penting Rukun…. :D tentang keyakinan itu urusan masing-masing. “untukmu agamamu dan untukku agamaku” pada intinya semua keyakinan pada dasarnya sama…. semua keyakinan sama2 mengajarkan kebaikan… bukan digunakan untuk perpecahan.
    Salut kepada Ortu mu… mereka punya kasih dan cinta yang begitu hebat….

  8. Nice…perbedaan tidak hrs membuat kita saling membenci, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya karena kita makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lain. btw lebaran ini dirimu pulang kampung gaK?

  9. wah.. cerita yang menyentuh…

    di rumahku juga demikian.. ibuku dulu semasa muda adalah seorang Budha.. kemudian.. menjadi seorang Katolik saat kuliah hingga tahun yang lalu.. dan saat ini.. beliau menjadi seorang Muslim.. tapi hingga saat ini beliau menjalaninya selalu sepenuh hati, selalu yang dipegang teguh dan disebarkan adalah esensi dasar : kasih dan kebaikan Tuhan, bukannya menekankan pada perbedaan yang tak pernah habis diperdebatkan.. beliau juga tidak pernah memaksakan bahwa anak-anaknya dan orang disekitarnya harus memiliki agama yang sama..

    mengingat pesan ibu saya :
    berkembanglah.. beribadahlah menurut hatimu.. itu hak asasimu.. yang penting pegang teguh imanmu, Tuhan selalu penuh kasih, dan selalu ada untukmu. :)

    andai situasi sosial budaya kita seindah suasana rumah kita ya..

  10. Buat mbak Tira… lebih indah lagi jika bisa saling menghargainya… hehehe.. Benar kan ya?

    Wah… Astika juga curhat … bagus sekali ceritanya… Sedikit menggambarkan… Terlepas dari latar belakang mengapa Ibunya Astika berpindah agama, yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai kehidupan untuk lebih baik. Esensi kasih dan cinta itu pada dasarnya ada pada semua agama. Sikap toleransi memang harus ditanamkan sejak kecil, supaya setelah dewasa, kita justru tahu bagaimana kita memaknai perbedaan…

    Kalau ibu saya selalu berpesan: “Kamu boleh menjadi orang yang sangat hebat, kamu boleh menjadi orang yang sangat kaya.. tetapi kamu tidak boleh meninggalkan Tuhanmu sedetikpun…” – semoga terinspirasi…

  11. Hmmm….Yummy…nyam…nyam….nyam…
    Enak banget ne ayamnya! Seorang teman mengatakannya dalam satu waktu saat duduk dalam satu meja makan.
    Satu teman lagi yang juga duduk dalam satu meja sedang menikmati ayam yang sama, namun ia berkomentar…wah, ayamnya kurang gurih rasanya…bumbunya kurang menyerap kedalam daging…masih ada bulu2 halus dikulitnya lagi. Alhasil temanku yang satu ini tidak menghabiskan ayamnya,sebaliknya dengan temanku yang tadi…

    Saya memandang mereka dengan penuh tersenyum!

    Yaahhh…analogi makan ayam tadi.
    Tanpa tahu siapa pembuat ayam…bagaimana ayam itu dibuat…
    Yang ada dihadapan kita ya menjadi pilihan kita…
    Karena makan menjadi keharusan bagi kita…
    Kita bisa memilih keharusan tadi dengan berbagai pilihan yang ada…

    Hubungan kita dengan manusia lain (horisontal) ada baiknya tidak perlu disangkutkan dengan atribut hubungan manusia dengan Sang Khalik (vertikal). Tapi hanya saja kehidupan sosial (baik dalam masyarakat maupun dalam bernegara) yang menjadikan kita berada di tengah2nya.

    Pintar-pintarnya manusia mencari jalan alternatif untuk menengahinya namun juga dengan tidak menyebabkan persinggungan di dalamnya.

    Ingat…
    Manusia diberikan akal budi untuk berpikir dan berkarya maka…pergunakanlah itu!

    Salam dan selamat berkarya Bung Anwar…

    -kawan_lama-

  12. “Untukmu Agamamu n untukku Agamaku”
    ini adalah salah satu ayat Al Qur’an.
    Jika seseorang mempelajari agamanya dengan benar dan menyeluruh maka tidak akan ada perang. Dia tahu batas2 toleransi yang bisa diberikan kepada yang tidak seiman.

    Saya seorang muslim dengan keluarga inti muslim juga tetapi mempunyai sejarah leluhur yang tidak semuanya muslim n sekarang pun masih ada saudara jauh yg juga bukan muslim. Sangat disayangkan banyak orang yang menganut agama kepercayaannya masing2 tetapi tidak mendalami agamanya. minimal Khatam mebaca kitab sucinya.

  13. Wah, indah sekali Mas kebersamaan dalam keluargamu.
    Saya pribadi punya pandangan, toleransi bukan partisipasi.

    Menjamin kebebasan umat lain untuk beribadah adalah kewajiban kita semua.
    Kalau saya, karena hidup di lingkungan konghucu meskipun keluarga saya muslim, tidak ada masalah dalam bergaul dengan teman2 agama lain.

    Semoga Indonesia semakin damai

    Kebebasan memeluk agama dan menjalankan ibadah nampaknya masih sebatas di ranah aturan. Kenyataannya, masih banyak yang tidak bisa beribadah dengan tenang… Mari kita doakan mereka dan tentunya mempertebal rasa toleransi kita pada mereka.

  14. INGIN MAKMUR, TERAPKAN EKONOMI ISLAM
    Sistem Mata Uang Emas dan Perak
    Yang dimaksud dengan sistem uang emas dan perak (gold and silver standard) adalah penggunaan emas dan perak sebagai standar satuan uang. Kedua logam tersebut dapat digunakan sebagai mata uang tanpa batasan bentuk. Sistem ini telah dikenal sejak zaman dahulu dan dipergunakan di dalam Negara Islam. Dalam pemerintahan Islam, Rasulullah saw. telah menggunakan mata uang tersebut dalam berbagai muamalah saat itu. Keduanya beredar di masyarakat, meski belum memiliki bentuk baku. Rasulullah saw. saat itu tidak tidak pernah mencetak uang tertentu dengan ciri khas tertentu. Karena, yang menjadi standar mata uang ini bukanlah ukuran, ukiran, atau bentuknya, tetapi berat satuan uang masing-masing.
    Kondisi semacam ini berlangsung terus sepanjang hayat Rasulullah saw., masa Khulafaur Rasyidin, awal masa Bani Umayyah, hingga masa Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik kemudian melihat perlunya mengubah emas dan perak–baik yang sudah diukir atau belum–yang dipergunakan dalam transaksi, ke dalam cetakan dan ukiran Islam. Kemudian, dibentuk dalam bentuk satu timbangan yang sama, serta berbentuk barang yang tidak perlu lagi ditimbang. Lalu, beliau mengumpulkan mulai yang besar, kecil, dan berbentuk cetakan ke dalam satu timbangan Makkah. Setelah itu, Abdul Malik mencetak dirham dari perak dan dinar dari emas. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun ke-75 Hijriyah. Sejak saat itulah, dirham dan dinar Islam telah dicetak. Dengan kata lain, sejak waktu itulah uang Islam menjadi khas mengikuti satu ciri khas yang tidak berbeda-beda lagi.
    Kedua logam ini dapat digunakan secara bersamaan karena sistem uang emas pada dasarnya sama seperti sistem uang perak. Negara Islam sejak Rasulullah saw. hijrah telah mengambil kebijakan berdasarkan standar uang emas dan perak secara bersama-sama, tanpa adanya pemisahan. Karena itu, kebijakan moneter tetap harus senantiasa berpijak pada standar emas dan perak tersebut secara bersamaan. Kesimpulannya adalah uang yang beredar di masyarakat harus berupa emas dan perak, baik diwujudkan dalam bentuk fisik emas dan perak maupun mempergunakan uang kertas dengan jaminan emas dan perak yang disimpan di tempat tertentu, semisal bank sentral.
    Keharusan Menggunakan Standar Mata Uang Emas dan Perak
    Pada dasarnya, Islam telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk melakukan pertukaran dengan mempergunakan barang apa saja yang dia sukai. Bahkan, Islam masih mengakui sistem perdagangan barter. Namun, untuk menghilangkan ketidakjelasan dalam pertukaran komoditas, alat tukar (uang) menjadi penting dilakukan. Sesuai dengan fungsinya, alat tukar apa pun yang dipergunakan harus dapat menghilangkan perselisihan di antara kedua pihak yang melakukan pertukaran. Dalam hal ini, terkait dengan masalah uang sebagai alat tukar, Islam telah menetapkan emas dan perak sebagai standar mata uang.
    Menurut an-Nabhani (1990) ada keharusan untuk menjadikan emas dan perak sebagai standar mata uang dalam sistem ekonomi Islam. Beberapa argumentasi yang mendasari keharusan tersebut adalah:
    a. Ketika Islam melarang praktik penimbunan harta (kanzul mal), Islam hanya mengkhususkan larangan penimbunan harta untuk emas dan perak. Larangan ini merujuk pada fungsi emas dan perak sebagai uang atau alat tukar (medium of exchange).
    “Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak, serta tidak menafkahkannya di jalan Allah (untuk jihad), maka beritahukan kepada mereka (bahwa mereka akan mendapatkan) azab yang pedih” (TQS at-Taubah [9]: 34).
    b. Islam mengaitkan emas dan perak dengan hukum-hukum Islam lainnya, seperti diyat dan pencurian. Islam menentukan diyat dengan ukuran tertentu dalam bentuk emas. Islam juga mengenakan sanksi potong tangan terhadap praktik pencurian dengan ukuran melebihi emas sebesar ¼ dinar.
    “Bahwa di dalam (pembunuhan) jiwa itu terdapat diyat berupa 100 unta dan terhadap pemilik emas (ada kewajiban) sebanyak 1.000 dinar” (HR an-Nasa’i dan Amru bin Hazam).
    “Tangan itu wajib dipotong, (apabila mencuri) 1/4 dinar atau lebih.” (HR Imam Bukhari, dari Aisyah r.a.).
    c. Zakat uang yang ditentukan Allah Swt berkaitan dengan emas dan perak. Allah Swt. juga telah menentukan nisab zakat tersebut dengan emas dan perak.
    d. Rasulullah saw. telah menetapkan emas dan perak sebagai uang sekaligus sebagai standar uang. Setiap standar barang dan tenaga yang ditransaksikan akan senantiasa dikembalikan kepada standar tersebut.
    e. Hukum-hukum tentang pertukaran mata uang (money changer) dalam Islam yang terjadi dalam transaksi uang selalu hanya merujuk pada emas dan perak, bukan dengan yang lain. Hal ini adalah bukti yang tegas bahwa uang tersebut harus berupa emas dan perak, bukan yang lain.
    Nabi saw. bersabda,”Emas dengan mata uang (bisa terjadi) riba, kecuali secara tunai” (HR Imam Bukhari).
    Oleh karena itu, ketika syara’ menyatakan lafadz-lafadz emas dan perak, bisa diperuntukkan dua hal: Pertama, untuk jenis uang yang dipergunakan dalam melakukan transaksi, baik berupa tembaga, kertas uang, atau lainnya, asalkan mempunyai penjamin berupa emas dan perak. Kedua, untuk emas dan perak itu sendiri. Dengan demikian, uang jenis apa pun, baik emas maupun perak, uang kertas, tembaga, ataupun yang lain, dapat digunakan sebagai mata uang selama memungkinkan untuk ditukarkan menjadi emas dan perak, karena emas dan peraklah yang menjadi standar.
    Keunggulan Sistem Emas dan Perak
    Sebuah keuntungan yang dimiliki oleh sistem uang emas jika dibanding dengan sistem uang kertas ataupun sistem-sistem mata uang lainnya adalah sistem uang emas bersifat internasional. Hal ini tidak mungkin dimiliki oleh sistem-sistem uang lain. Dunia secara keseluruhan telah mempraktikkan sistem uang emas dan perak, sejak ditemukannya uang, hingga Perang Dunia I. Keunggulan sistem uang dua macam logam tersebut menjadi alasan mengapa harga-harga komoditas saat itu tetap terjaga dengan standar yang tinggi. Akibatnya, laju produksi terdorong dengan kuat karena tidak ada ketakutan adanya fluktuasi harga. Nilai mata uang tersebut menjadi lebih stabil.
    Akan tetapi, ketika imperialisme ekonomi dan kekayaan mulai dijalankan, para imperialis mempergunakan uang sebagai salah satu sarana penjajahan. Mereka mengubah sistem uang emas ke dalam sistem uang lain. Dengan kuatnya mata uang yang dimiliki negara imperialis, mereka dapat memaksakan berbagai kebijakan ekonominya kepada negara lain, termasuk negeri Islam. Dari sinilah, muncul sebuah keharusan untuk kembali kepada sistem emas dan perak dengan beberapa pertimbangan manfaat sistem uang emas. Menurut an-Nabhani (1990) di antara manfaat yang paling penting dari sistem mata uang emas adalah sebagai berikut.
    a. Sistem uang emas akan mengakibatkan kebebasan pertukaran emas, mengimpor, dan mengekspornya; yakni masalah yang menentukan peranan kekuatan uang, kekayaan, dan perekonomian. Dalam kondisi semacam ini, aktivitas pertukaran mata uang tidak akan terjadi karena adanya tekanan luar negeri, sehingga bisa memengaruhi harga-harga barang dan gaji para pekerja.
    b. Sistem uang emas, juga berarti tetapnya kurs pertukaran mata uang antarnegara. Akibatnya, akan meningkatkan perdagangan internasional. Sebab, para pelaku bisnis dalam perdagangan luar negeri tidak takut bersaing. Karena kurs uangnya tetap, maka mereka tidak khawatir dalam mengembangkan bisnisnya.
    c. Dalam sistem uang emas, bank-bank pusat dan pemerintah, tidak mungkin memperluas peredaran kertas uang, karena secara umum kertas uang tersebut bisa ditukarkan menjadi emas dengan harga tertentu. Sebab, pemerintah-pemerintah tertentu khawatir jika memperluas peredaran kertas uang tersebut, justru akan menambah jumlah permintaan akan emas, sementara pemerintah sendiri tidak sanggup menghadapi permintaan tersebut. Oleh karena itu, untuk melindungi kertas uang yang dikeluarkan serta sikap hati-hati pemerintah terhadap emas, pemerintah tersebut akan melakukan penimbunan (uang emas).
    d. Tiap mata uang yang dipergunakan di dunia, selalu dibatasi dengan standar tertentu yang berupa emas. Di samping itu, pada saat itu pengiriman barang, kekayaan, dan orang dari satu negara ke negara lain, menjadi sedemikian mudah. Dengan demikian, masalah potongan serta kelangkaan uang bisa dihilangkan.
    e. Tiap negara akan menjaga kekayaan emas, sehingga tidak akan terjadi pelarian emas dari satu negara ke negara lain. Selain itu, negara pun tidak akan memerlukan kontrol sekecil-kecilnya untuk melindungi kekayaannya. Sebab, kekayaan tersebut tidak akan ditransfer dari negara tersebut kecuali karena adanya alasan yang sah menurut syara’, yakni adakalanya untuk membayar barang atau gaji para pekerja.
    Islam dan Pelarangan Riba dan Bunga
    Al-Quran menyebut riba untuk bunga yang secara bahasa adalah tambahan, kelebihan, peningkatan, atau surplus. Dalam ilmu ekonomi, bunga merujuk pada kelebihan pendapatan yang diterima oleh si pemberi pinjaman dari si peminjam, kelebihan dari jumlah uang pokok yang dipinjamkan, yaitu sebagai upah atas dicairkannya sebagian harta dalam waktu yang ditentukan.
    Dalam Islam, riba secara khusus menunjuk pada kelebihan yang diminta dengan cara yang khusus. Dengan demikian, praktik riba tidak hanya terjadi pada pinjam meminjam saja, tetapi dapat terjadi dalam jual beli, pinjaman (qardh), dan salam. Secara definitif, riba adalah perolehan harta dengan harta lain yang sejenis dengan saling melebihkan–antara satu dengan yang lain.
    Islam menganggap riba berbeda dengan perdagangan. Pandangan ini sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran.
    “Mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS al-Baqarah [2]: 275).
    Dalam kesimpulannya, Rahman (1996) memberikan lima aspek perbedaan riba dengan perdagangan, yakni:
    Dalam perdagangan, pemilik modal selain mengharapkan keuntungan juga masih menanggung risiko kerugian juga. Sifat ini tidak terdapat dalam riba. Pemilik modal hanya mau memperoleh keuntungan, sedangkan semua risiko kerugian ditanggung oleh peminjam.
    Dalam perdagangan, keuntungan diperoleh melalui inisiatif, kerja keras usaha, dan tentu saja, merupakan hasil dari suatu proses penciptaan nilai yang jelas. Namun, tidak demikian halnya dengan riba, yang tidak membutuhkan semua itu.
    Perbedaan lain yang mendasar antara perdagangan dan riba adalah, riba merupakan tambahan yang ditentukan sebelumnya, yang lebih besar dari pinjamannya untuk jangka waktu yang telah ditetapkan, sedangkan keuntungan dari perdagangan dan industri berfluktuasi dan tidak dapat ditentukan dengan jelas.
    Dalam transaksi perdagangan, antara penjual pembeli keduanya memperoleh keuntungan. Seorang penjual yang menjual selembar pakaian seharga 10 dinar dengan harga 20 dinar ia akan mendapatkan keuntungan berupa laba 10 dinar. Begitu pula pembeli mendapatkan keuntungan karena ia memperoleh pakaian yang menurutnya sangat berharga baginya. Namun, dalam hal pinjam-meminjam, pemilik uang tidak pernah memberikan pengorbanan apa pun. Jika peminjam mendapatkan keuntungan berupa tenggang waktu pembayaran, itu bukanlah keuntungan yang nyata. Karena itu, pemilik uang tidak boleh menuntut tambahan riba sebagai imbalan untuk waktu, sebab waktu bukanlah sebuah komoditas yang dapat diperjual-belikan.
    Pada transaksi perdagangan, penjual hanya akan memperoleh keuntungan sekali saja, yaitu ketika komoditas dagangannya terjual. Sementara itu, pemilik uang yang membungakan pinjaman dapat meraih keuntungan berulang kali karena perpanjangan tenggang waktu pembayaran.
    Inilah kondisi-kondisi nyata yang terjadi pada riba dan perdagangan. Riba dengan jelas sangat merugikan dan perdagangan mendatangkan keuntungan bagi semua pihak. Maka dari itu, dapatlah dipahami mengapa Allah Swt. melarang riba, tapi menghalalkan jual beli.
    Pelarangan Riba dalam Al-Quran
    Islam melarang keras sekali perbuatan riba. Pada awal kerasulannya, Rasulullah saw. telah mendapat peringatan Allah Swt. supaya membersihkan diri. Allah menjelaskan dan mengabarkan supaya Rasulullah saw. menahan diri dari materi. Sesudah itu, Rasulullah berturut-turut mendapatkan keterangan tentang bahayanya riba. Ayat pertama yang diturunkan tentang riba adalah firman Allah Swt.:
    “Suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang yang melipatgandakan” (TQS Ar-Ruum [30]: 39).
    Ayat ini diturunkan di Makkah, tetapi ia tidak menunjukkan isyarat apa pun mengenai haramnya riba. Yang ada hanyalah isyarat kebencian Allah Swt. terhadap tiba, sekaligus peringatan supaya berhenti dari aktivitas riba.
    Ayat yang kedua tentang riba adalah firman Allah Swt. tentang tindakan orang Yahudi (dengan salah satunya praktik riba mereka) yang menyebabkan kemurkaan Allah Swt. Bunyi ayat tersebut sebagai berikut:
    “Maka lantaran kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi itu, Kami haramkan atas mereka beberapa jenis makanan yang baik-baik yang sedianya dihalalkan kepada mereka. Lantaran perbuatan mereka yang menghalangi manusia dari jalan Allah yang banyak sekali itu serta mereka yang mengambil riba, padahal mereka telah dilarangnya” (TQS an-Nisaa [4] : 160-161).
    Ayat yang ketiga yang berkaitan dengan riba adalah firman Allah Swt. yang berbunyi:
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan riba dengan berlipat ganda …” (TQS Ali ’Imran [3]: 130).
    Ayat ini diturunkan di Madinah dan mengandung larangan tegas, yaitu tentang pengharaman salah satu jenis praktik riba, riba Nasi’ah. Namun, larangan dalam ayat tersebut masih bersifat sebagian, belum menyeluruh. Pengharaman riba pada ayat ini hanya berlaku bagi praktik-praktik riba yang keji dan jahat, yang bentuknya membungakan uang dengan berlipat ganda.
    Ayat tentang riba yang terakhir diturunkan adalah firman Allah Swt. yang berbunyi:
    “Hai orang-orang yang beriman takutlah kepada Allah dan tinggalkanlah apa yang masih tersisa dari riba jika kamu orang-orang yang beriman …” (TQS al-Baqarah [2]: 278).
    Dengan turunnya ayat ini, maka riba telah diharamkan secara menyeluruh, tidak lagi dibedakan, yang banyak ataupun sedikit.
    Pertukaran Mata Uang
    Dalam sistem ekonomi Islam, pertukaran mata uang dengan mata uang yang sejenis, atau pertukaran dengan mata uang asing termasuk ke dalam aktivitas sharf. Aktivitas sharf atau pertukaran mata uang menurut hukum Islam adalah boleh, sebab sharf adalah pertukaran harta dengan harta lainnya yang berupa emas dan perak, baik sejenis maupun yang tidak sejenis, dengan berat dan ukuran yang sama dan boleh berbeda (al-Maliki, 1963).
    Dasar kebolehan pertukaran mata uang (sharf) tersebut adalah sabda Rasulullah saw.:
    “Juallah emas dengan perak sesuka kalian, dengan syarat harus tunai” (HR Imam Tirmidzi dari Ubadah bin Shamit).
    Ubadah bin Shamit mengatakan: ”Aku mendengar Rasulullah saw. melarang menjual emas dengan emas, perak dengan perak, bur dengan bur, sya’ir deng sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, selain sama antara barang yang satu dengan barang yang lain, maka barang siapa yang menambahkan atau meminta tambahan, maka dia telah melakukan riba” (HR Imam Muslim).
    “Rasulullah saw melarang menjual emas dengan perak dengan cara diutangkan” (HR Imam Bukhari).
    Dari pengertian hadis di atas, dapat dipahami bahwa dalam pertukaran mata uang ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yakni: (1) Jika pertukaran dilakukan di antara mata uang yang sejenis, maka pertukarannya harus senilai, tapi jika tidak sejenis, boleh berbeda nilai; (2) Pertukaran atau jual beli tersebut haruslah dilakukan secara tunai dan tidak boleh dengan cara diutangkan (kredit); (3) Pertukaran di antara mata uang tersebut dilakukan dalam satu majelis (tempat).
    Jual beli mata uang tertentu, misalnya dolar dengan rupiah adalah aktivitas yang boleh selama dilakukan secara kontan dan dalam satu majelis. Karena itulah, pertukaran di money changer selama memenuhi ketentuan di atas adalah boleh. Namun, perdagangan mata uang asing di bursa valas secara langsung atau melalui forex advisor tidak dibolehkan, sebab tidak memenuhi dua syarat kontan dan langsung terjadi serah terima (hand to hand).
    Sistem Keuangan Daulah Khilafah Islam
    Sebagai sebuah institusi, Negara Islam (Daulah Khilafah Islamiyah) tentunya memiliki sumber pendanaan bagi kegiatan pembangunan. Sumber-sumber utama pendanaan pembangunan Negara Islam sangat berbeda dengan sumber pendanaan pembangunan negara-negara kapitalis, termasuk Indonesia. Sumber utama pendanaan pembangunan sekarang menitikberatkan pada pendapatan pajak, juga sangat mengandalkan pada pendanaan luar negeri, yakni dari utang luar negeri yang ribawi. Sementara itu, Negara Islam justru tidak mengandalkan pajak dan utang luar negeri.
    Sumber-sumber pendanaan Negara Islam dapat kita lihat dari adanya institusi yang menghimpun keuangan Negara sekaligus mempunyai pengaturan pengeluaran tersendiri. Institusi ini bernama Baitul Mal. Baitul Mal adalah lembaga keuangan negara yang mempunyai tugas khusus menangani segala harta umat, baik berupa pendapatan maupun pengeluaran negara.
    Secara garis besar, pendapatan negara yang masuk ke dalam Baitul Mal di kelompokkan menjadi tiga sumber, yakni:
    Pendapatan dari Pengelolaan Negara atas Kepemilikan Umum.
    Benda-benda yang termasuk dalam kepemilikan umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok berikut: (a) Fasilitas Umum. Yang merupakan fasilitas umum adalah apa saja yang dianggap sebagai kepentingan manusia secara umum. Apabila barang tersebut tidak ada di dalam suatu negeri atau pada suatu komunitas akan menyebabkan kesulitan dan dapat menimbulkan persengketaan dalam mencarinya. Rasulullah saw. telah menjelaskan dalam sebuah hadis bagaimana sifat kebutuhan umum tersebut. Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw. bersabda:
    “Manusia berserikat (punya andil) dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput, dan api” (HR Abu Daud).
    (b) Bahan tambang yang tidak terbatas (sangat besar). Bahan tambang yang jumlahnya sedikit dapat dimiliki secara pribadi. Hasil tambang seperti ini akan dikenai hukum rikaz (barang temuan) sehingga harus dikeluarkan 1/5 bagian (20%) daripadanya. Bahan tambang yang jumlahnya sangat besar termasuk milik umum dan tidak boleh dimiliki secara pribadi; (c) Benda-benda yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki hanya oleh individu. Ini meliputi jalan, sungai, laut, danau, tanah-tanah umum, teluk, selat, dan sebagainya. Yang juga bisa disetarakan dengan hal-hal tadi adalah masjid, sekolah milik negara, rumah sakit negara, lapangan, tempat-tempat penampungan, dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.:
    “Kota Mina adalah tempat parkir unta bagi orang yang lebih dulu (datang).” (Maksudnya tempat untuk umum)
    Barang-barang tambang seperti minyak bumi beserta turunannya, semisal bensin, gas, dan lain-lain, termasuk juga listrik, hutan, air, padang rumput, api, jalan umum, sungai, dan laut, semuanya telah ditetapkan syara’ sebagai kepemilikan umum. Negara mengelolanya dengan mengatur produksi, memperoleh pendapatan dari penjualan hasil produksinya, serta mendistribusikan aset-aset tersebut untuk rakyat. Pengelolaan kepemilikan umum oleh negara dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:
    a. Pemanfaatan secara langsung oleh masyarakat umum. Air, padang rumput, api, jalan umum, laut, samudra, sungai besar, bagi setiap individu berhak menfaatkan secara langsung atas barang-barang tersebut. b. Pemanfaatan di bawah pengelolaan negara. Kekayaan milik umum yang tidak dapat dimanfaatkan secara langsung oleh setiap individu masyarakat karena membutuhkan keahlian, teknologi tinggi, serta biaya yang besar, seperti minyak bumi, gas alam, dan barang tambang lainnya, maka negara yang berhak mengelolanya untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi bahan tersebut. Hasilnya dimasukkan ke dalam kas Baitul Mal. Khalifah adalah pihak yang berwenang di dalam mendistribusikan hasil tambang dan pendapatannya sesuai dengan ijtihadnya demi kemaslahatan umat.
    Pendapatan dari Ghanimah, Kharaj, Fa’i, Jizyah, Dharibah (Pajak)
    Ghanimah adalah harta rampasan perang. Setelah dibagikan kepada pasukan yang ikut berperang, maka sisanya dimasukkan ke dalam Baitul Mal sebagai sumber pemasukan bagi negara. Jizyah adalah hak yang diberikan Allah Swt. kepada kaum muslim dari orang-orang kafir, karena adanya ketundukan mereka kepada pemerintahan Islam. Jizyah adalah kewajiban bagi orang kafir dzimmi, sehingga dengan sendirinya jizyah menjadi tidak wajib apabila mereka telah memeluk Islam. Jizyah hanya diambil dari kaum prianya dan tidak wajib bagi kaum wanita, anak-anak, serta orang gila.
    Kharaj berkaitan dengan kewajiban atas tanah kharajiyah. Sebagaimana pembahasan tentang pertanahan, tanah kharajiyah merupakan lahan tanah yang dirampas dari kaum kafir secara paksa, setelah perang diumumkan kepada mereka. Status tanah ini bersifat tetap sehingga tidak berubah meskipun pemilik tanah ini telah memeluk Islam. Kharaj merupakan kewajiban kaum kafir yang dibayarkan apabila mereka menyepakati bahwa tanah tersebut adalah milik kaum muslim dan mereka mengakuinya dengan membayar kharaj.
    Adapun Dharibah (pajak) adalah harta yang difardhukan oleh Allah Swt. kepada kaum muslim dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka. Pada saat kas Baitul Mal kosong, sedangkan pengeluaran wajib Baitul Mal harus ditunaikan, maka negara dapat memberlakukan pajak kepada kaum muslim. Kaum muslim dalam hal ini harus tunduk pada kebijakan khalifah mengenai pemungutan pajak dan penafkahkannya sesuai dengan objek-objek tertentu.
    Pendapatan dari Zakat, Infak, Sedekah
    Sumber pendapatan lainnya yang ada pada Baitul Mal adalah dari sumber zakat, infak, sedekah, wakaf, hadiah, dan harta yang sejenisnya. Badan ini yang menjadi tempat penyimpanan harta-harta zakat yang wajib beserta catatan-catatannya. Sekaligus juga mengatur harta-harta lainnya yang masuk pada badan ini. Untuk harta zakat ini dibuatkan tempat khusus di Baitul Mal dan tidak bercampur dengan yang lainnya. Dalam kaitan ini, Allah Swt. telah membatasi orang-orang yang berhak menerima zakat, yaitu 8 golongan.
    Yang termasuk dalam kategori sumber pemasukan yang diletakkan di dalam Baitul Mal dan dibelanjakan untuk kepentingan rakyat, adalah harta yang diperoleh oleh tebusan tawanan perang dari kafir harbi dan mu’ahid, serta harta-harta yang diperoleh dari hak milik negara, dan harta-harta waris dari orang yang tidak mempunyai ahli waris.
    Pengelolaan dan Pemanfaatan Kekayaan Negara
    Dalam mengelola dan memanfaatkan kekayaan negara yang diperoleh dari berbagai sumber di atas, negara haruslah memperhatikan dari sumber mana kekayaan tersebut diperoleh. Pemanfaatan harta negara yang ada di Baitul Mal ditetapkan berdasarkan enam kaidah berikut.
    Pengeluaran untuk keperluan khusus, yaitu harta zakat. Harta tersebut dikeluarkan berdasarkan ada dan tidaknya. Apabila harta dari kas zakat tersebut ada pada Baitul Mal, maka pembelanjaannya disalurkan pada objek-objeknya–yaitu delapan ashnaf yang disebutkan di dalam al-Qur’n. Apabila harta tersebut tidak ada, maka pemilikan orang yang mendapatkan bagian atas harta tersebut telah gugur.
    Pengeluaran untuk menutupi terjadinya kekurangan, atau untuk melaksanakan kewajiban jihad. Contohnya adalah untuk para fakir miskin, ibnu sabil, serta keperluan jihad. Penggunaan dana Baitul Mal untuk keperluan ini, tidak ditentukan berdasarkan adanya harta tersebut. Apabila harta tersebut ada, maka seketika itu wajib diberikan. Apabila tidak ada, lalu dikhawatirkan akan terjadi kerusakan karena ditangguhkan, maka negara bisa meminjam harta untuk disalurkan seketika itu juga, berapa pun hasil pengumpulannya dari kaum muslim, setelah itu dilunasi. Namun, bila tidak khawatir akan terjadi kerusakan, maka pembelanjaannya bisa ditunda.
    Pengeluaran rutin untuk gaji pegawai, seperti gaji tentara, pegawai negeri, hakim, tenaga edukatif, dan sebagainya. Adapun hak mendapatkan pembelanjaan untuk keperluan ini tidak ditentukan berdasarkan adanya harta. Pembelanjaannya merupakan hak yang bersifat tetap, baik pada saat harta tersebut ada maupun tidak, yakni baik harta tersebut ada maupun tidak ada di dalam Baitul Mal. Apabila harta tersebut ada, maka saat itu wajib dibelanjakan. Apabila tidak ada, maka negara wajib mengusahakannya, dengan cara memungut harta yang diwajibkan atas kaum muslim.
    Pengeluaran bagi kemaslahatan umum yang vital. Contohnya, pembangunan jalan, air, bangunan masjid, sekolah, rumah sakit, dan masalah-masalah lainnya, yang keberadaannya dianggap sebagai masalah yang vital, yaitu umat akan mengalami penderitaan apabila masalah-masalah tersebut tidak ada. Pengeluaran untuk keperluan ini tidak ditentukan berdasarkan adanya harta. Apabila di dalam Baitul Mal ada harta, maka wajib disalurkan untuk keperluan-keperluan tersebut. Apabila di dalam Baitul Mal tidak ada harta, maka kewajibannya berpindah kepada umat, sehingga harta tersebut bisa dikumpulkan dari umat secukupnya untuk memenuhi pengeluaran-pengeluaran yang bersifat paten tersebut.
    Pengeluaran bagi kemaslahatan umum yang tidak vital. Contohnya, antara lain pembuatan jalan biasa, ketika jalan yang lain sudah ada, atau membuka rumah sakit baru yang sebenamya sudah cukup dengan adanya rumah sakit yang lain, atau membangun jalan, sementara orang-orang bisa memakai jalan lain, hanya lebih jauh, ataupun yang lain. Pengeluaran untuk keperluan ini ditentukan berdasarkan adanya harta, bukan pada saat tidak adanya. Apabila di dalam Baitul Mal terdapat harta, maka wajib disalurkan untuk keperluan-keperluan tersebut. Apabila di dalam Baitul Mal tidak terdapat harta, maka kewajiban tersebut gugur dari Baitul Mal. Kaum muslim juga tidak wajib membayar untuk keperluan ini, sebab sejak awal pembiayaannya tidak wajib bagi kaum muslim.
    Pengeluaran untuk keperluan darurat, seperti paceklik, angin topan, gempa bumi, atau serangan musuh. Hak pembelanjaannya tidak ditentukan berdasarkan adanya harta. Apabila harta tersebut ada, maka wajib disalurkan saat itu juga. Apabila harta tersebut tidak ada, maka kewajibannya dipikul oleh kaum muslim. Hal ini karena harta tersebut wajib dikumpulkan dari kaum muslim saat itu juga. Kemudian, harta tersebut dikumpulkan di Baitul Mal untuk disalurkan kepada yang berhak. Apabila dikhawatirkan akan terjadi penderitaan, karena pembelanjaannya ditunda hingga terkumpul semuanya, maka negara wajib berutang kepada warga negara terlebih dulu, dan pada saat itu juga disalurkan kepada yang berhak. Adapun mengenai utang tersebut akan dibayar dari harta yang dikumpulkan dari kaum muslim.
    Pengelolaan Keuangan Negara
    Berdasarkan uraian di atas, Negara Islam ternyata mempunyai cara mekanisme tersendiri dalam mengatur sistem mata uang, sistem keuangan, dan moneter. Cara-cara tersebut sangat berbeda dengan cara-cara negara kapitalis dalam mengelola keuangan negara. Dengan sistem mata uang dua logam akan membuat mata uang Negara Khilafah menjadi kuat dan stabil. Dampak selanjutnya adalah akan memudahkan dalam merencanakan berbagai kegiatan pembangunan. Demikian pula dengan larangan kegiatan spekulatif nonproduktif, maka sektor riil akan tumbuh pesat. Hal yang sama juga terjadi jika riba atau bunga uang dilarang, sektor riil akan tumbuh dengan pesat. Dana yang ada tidak boleh dibiarkan diam, tapi harus berputar. Dana-dana yang disalurkan ke sektor riil dan ini pada gilirannya akan mendorong kegiatan ekonomi masyarakat.
    Sumber-sumber pendapatan yang telah ditetapkan oleh syara’ untuk Baitul Mal sebenarnya sudah cukup untuk mengatur urusan rakyat dan melayani kepentingan mereka. Dalam hal ini tidak perlu lagi mewajibkan pajak untuk seluruh masyarakat. Namun, dalam kondisi untuk memenuhi kebutuhan vital dan mendesak, sementara kas negara sedang kosong, negara dapat memungut harta masyarakat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini sebenarnya merupakan harta yang difardhukan oleh Allah Swt. kepada kaum muslim dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka. Harta yang dikumpulkan ini boleh disebut pajak (dharibah), atau harta yang diwajibkan, ataupun sebutan-sebutan yang lain.
    Pajak hanya dipungut dalam rangka: (a) memenuhi pengeluaran wajib bagi Baitul Mal, misalnya untuk para fakir miskin, ibnu sabil, serta dalam melaksanakan kewajiban jihad; (b) memenuhi pengeluaran rutin yang wajib bagi Baitul Mal, yaitu untuk gaji pegawai negeri, tentara, dan sebagainya; (c) memenuhi pengeluaran wajib bagi Baitul Mal untuk keperluan sarana vital; (d) memenuhi pengeluaran wajib bagi Baitul Mal dalam kondisi darurat, seperti ada paceklik, angin topan, gempa bumi, serangan musuh, atau apa saja yang menimpa kaum muslim; serta (e) melunasi utang-utang negara dalam rangka melaksanakan kewajiban negara terhadap kaum muslim.
    Dengan demikian, pajak yang dikenakan oleh negara Islam sangat berbeda dengan pajak dalam sistem kapitalis. Di dalam Islam itu hanya digunakan sebagai penyangga jika kondisi keuangan negara tidak mencukupi untuk memenuhi kepentingan masyarakat. Sementara itu, dalam sistem kapitalis pajak merupakan sumber utama pendanaan negara.
    Demikian pula dengan sumber pendanaan luar negeri yang berasal dari utang. Negara Islam sedapat mungkin menghindarkan diri berutang ke negara mana pun. Hal ini karena bahaya yang diperoleh dari utang luar negeri begitu besar. Kalaupun berutang, maka akan diprioritaskan kepada warga negara (utang dalam negeri), dengan syarat tidak boleh mengandung unsur riba.
    Tambahan lagi, bahaya yang tersembunyi di balik utang-utang luar negeri dari negara-negara kapitalis adalah sangat besar. Dengan cara itu, amat mudah bagi negara kapitalis untuk menghancurkan sebuah negara yang telah berada dalam genggaman utang-utangnya. Dalam hal ini Islam melarang kaum muslim melakukan berbagai aktivitas yang dapat mejadikan Ahlul harbiy (non muslim yang memusuhi islam) berkuasa atas mereka (QS an-Nisaa [4]: 141). Islam juga melarang kaum muslim menimbulkan kerusakan dan membahayakan diri sendiri. Rasulullah saw. Bersabda,“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain di dalam Islam.”
    Namun, meskipun utang luar negeri dapat membahayakan, bukan berarti bahwa Islam mengharamkan sama sekali bantuan luar negeri (utang). Boleh saja bagi kaum muslim (Negara Islam) menerima bantuan luar negeri (utang) dari negara lain selama tidak terkait dengan sistem ribawi, juga selama persyaratan-persyaratannya tidak mengikat, serta dapat dipastikan bahwa dibalik bantuan tersebut (utang) tidak tersembunyi bahaya-bahaya, seperti yang telah diuraikan di atas. Akan tetapi, perlu disampaikan bahwa dalam Islam bantuan luar negeri (utang) bukan priotitas utama untuk mendapatkan dana bagi keperluan negara.
    Wallahu a’lam bi ash-shawwab

  15. Halo anwariksono, salam kenal. Menemukan blogmu ketika blog walking, lalu tertarik pada post ini. Klo aku kebalikan bapak ibumu, bapakku katolik dan ibuku islam, dengan alasan yang sama maka kedua anaknya (aku dan adikku) menganut islam. Sama-sama dari Solo, di Penumping ^^. Sebagai anak, aku bangga pada cinta yang terjadi di antara bapak dan ibu. dan di 2006 ketika Bapak berpulang, aku membaca puisinya untuk ibuku :

    Kami adalah bayang-bayang
    lahir dari sejarah nenek moyang
    berdiri tegak antara Roma–Mekah
    menatap langit.
    Hari ini kami telah dikawinkan
    berdiri tegak menatap langit
    Mengharap
    dan mengharap kemukjizatan apa saja.

    saat itu aku bersyukur memiliki mereka sebagai orang tuaku :)

  16. Saya dan suami juga beda agama, tapi kami menikah dengan adat islam… saat ini kami menjalankan ibadah masing. dan saya pun membebaskan agama bagi anak laki-laki saya yg saat ini usianya baru 2thn 4bln. tp sedari awal sy (ibunya) sdh mengajarkan agama islam….wlpn pada akhirnya nanti saya menyerahkan semua pilihan ke anak saya. tp banyak tetangga saya yg mencemooh saya krn menikah dengan beda agama…apalgi sebentar lagi anak saya akan sekolah, dan Insya Allah akan saya sekolahkan di sekolah katholik :) harus lebih banyak belajar sabar dan ikhlas….karena saya hanya ingin yg terbaik buat anak saya semata wayang

  17. ikut cerita ya sm mas yg punya blog ini ..
    dikeluarga saya juga brmacam2 agama ada .
    popoh (nenek) saya budha, paman saya nikah sama muslim, ayah tiri saya hindu, saya dan ibu saya kristen protestan .. seru pokoknya more chultur .. jd bisa saling menghargai perbedaan…
    semua agama itu baik, ajarannya baik, tujuannya pun sama yaitu ingin mencapai keselamatan dan kebahagiaan… jd perbedaan itu ga usah di bikin sebagai perpecahan tp di bikin sebagai pemersatu.

  18. Cerita yang dapat menjadi pencerahan tersendiri untukku yang sedang mengalami hal yg tidak jauh berbeda dengan perbedaan keyakinan, namun belum menemukan jalan kedepannya……semoga kisah2 di atas dapat menjadi semangat untuk saya……..

  19. saya punya pertanyaan mas umur saya 17 tahun. Saya punya masalah pada agama saya. Saya berasal dari keluarga Islam kuat bahkan fanatik. Tetapi 2 tahun belakangan ini saya mengenal agama Katholik. Saya mempercayainya bahkan saya terkadang meluangkan waktu saya untuk mengikuti Misa di Gereja. Jujur saya sangat bimbang untuk memilih apakah saya akan tetap menjadi Muslim atau pindah ke Katholik. Bukannya saya meragukan Tuhan tetapi saya bingung mana yg terbaik untuk saya karena jika saya tetap di Islam saya jujur saya sudah tidak bisa lagi karena saya punya panggilan hati yg lain tapi jika saya masuk Katholik banyak orang yg akan kecewa sm saya apalagi kedua orang tua saya dan nenek kakek saya yg masih ada. Dan jika saya meninggalkan mereka saya tidak bisa sekolah ataupun kuliah lagi. Menurut kak Anwar, bagaimana solusi terbaik untuk masalah yg saya hadapi saat ini ya? mohon dibales ya mas, terima kasih :)

  20. taukah anda, bahwa saya juga terlahir dari 2 agama yang berbeda?
    Ayah saya juga muslim yang taat hingga kini dan ibu saya juga seorang katolik hingga kini, tentu saja mereka masih tetap bersama sampai saat ini
    Saya juga tidak tahu proses pernikahan bapak dan ibu saya…, tapi saya pernah melihat foto pernikahan mereka yang menurut saya juga sama seperti kebanyakan orang.
    Saya juga mengerti ilmu antara 2 agama itu yakni islam dan katolik
    Dan itu cukup menguntungkan bagi saya sekaligus beban untuk saya..
    Maaf coment saya malah jadi curhat gini -_-

  21. keluarga kamu mungkin salah satu yang berhasil dengan dua keyakinan, tapi lebih banyak yang gagal dengan perkawinan berbeda agama..saya salut..semoga ayah kamu cepat sembuh ya dan selalu dalam lindungan Allah SWT,,Aaminn ya Rabbal’Alamin..

  22. aku percaya bahwa perbedaan itu akan indah jika kita mampu membangun dengan ketulusan. Dan aku percaya dengan namanya cinta beda agama, karna aku menjalani hal yang sama.

  23. salam kenal. Sy juga penganut katholik dan sy tinggal dengan kluarga yang beragam agamanya. pa2 sy islam dan ma2 saya katholik (awalnya berkat islam, lalu berkat katholik). opa sy protestan n oma sy katholik. bude sy seorang Hindu. Kami hidup rukun semua dengan menghargai keyakinan masing2. tak ada paksaan dalam keluarga besar saya, harus ikut agama yang mana. semua bebas memilih agama. tapi bukan b’arti untuk main2, mlainkan bertekun. Salut buat penulis n keluarga yg mampu menjaga kasih satu sama lain.

  24. kami agama katolik mendoakanmu agar tetap bersatu meski hanya perbedaan agama.
    agama sebuah kepercayaan kepada Tuhan,tapi memeluklah agama yang penuh dengan perdamaian….
    mas saya punya pertanyaan???? mas di Duniawi sekaran ini negara2 mana yang selalu penuh dengan peran,bencana alam dan tak ada perdamaian dan negara2 tersebut penduduknya memiliki agama ????? mas agama yang mana pengikutnya terroris???? dibalas ya…
    mas memeluklah agama yang punuh dengan perdamaian…..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s